Mencuri Waktu Membagi Suara

So, here I am! Setelah 4 hari gue nggak bersentuhan dengan laptop dan internet, akhirnya gue bisa ngenet sambil tiduran lagi di kamar gue *hore*

Selama 4 hari ini, gue jadi salah satu tim HPD PSA Mabim 2009. Mulai tanggal 18 sampai 21 Agustus yang lalu itu adalah pelaksanaan PSAnya. Walaupun seru, badan gue abis. Sekarang gue lagi terkapar dan malas ngapa2in.

Well, banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari acara PSA kemaren; berhubung kepala gue masih geliyengan, satu aja dulu ya: we don’t know how the future will lead us to somewhere destined to us.

Maksudnya? Kapan-kapan kita bahas. Ok?

Gerakan Mencari Amnesia

Sebenarnya, kalau gue boleh menista satu hal yang paling gue benci; hal itu adalah lari dari masalah. Menurut  gue, orang yang lari dari masalah sama dengan pengecut. Sama dengan cecurut, dia takut.

Tapi ternyata, tidak sesederhana itu. Ada lebih dari sekedar pertimbangan kilat soal lari dari masalah karena tidak semua masalah punya jalan keluar yang instan. Butuh lebih dari otak yang cerdas dan pribadi yang karismatik untuk menyelesaikan masalah yang luarbiasa pelik dan nggak mudah diselesaikan.

Menjadi amnesia.

Sebenarnya menjadi amnesia baru terpikir setelah gue mendengarkan satu album Tika and the Dissidents yang baru, The Headless Songstress. Menurut gue, album ini begitu catchy sekaligus noir.

Tapi, hari ini gue nggak mau bikin resensi tentang The Headless Songstress. Gue mau membahas gerakan mencari amnesia. Kenapa sih semua orang harus melupakan masa lalu kelam mereka untuk melangkah menuju masa depan yang katanya cerah, padahal kan mereka bisa aja melangkah dan tetap mengingat masa lalu mereka. Masa lalu justru bisa menjadi pegangan mereka menghadapi masalah di masa depan. Ya kan?

Lalu gue tanya diri gue sendiri. Apa yang gue lakukan setelah melewati sesuatu yang anjis najis banget?

Gue juga pernah minta amnesia. Hahahhaa…

Gue minta amnesia semata-mata karena gue nggak kuat nginget masa-masa yang lalu sambil sadar kalo kenyataannya itu cuman masa lalu. Gue nggak tau apa yang akan gue hadepin di depan, gue terus-menerus takut masa itu adalah masa-masa terbaik yang nggak mungkin gue alamin lagi.

Ternyata gue salah. Hal baik akan datang, dengan caranya sendiri, dengan bentuknya sendiri. Pelan, tapi pasti. Makanya, mulai hari ini gue berhenti mencari amnesia. Buat apa? Gue nggak nyesel bilang apa yang pernah gue bilang samalo. Gue juga nggak nyesel sama apapun yang pernah gue lewatin. Karena itu yang bisa membentuk gue di masa depan.

Silence and Patience

These are two words that mutually kills me. I can’t stand people who choose to keep his mouth shut in front of me, nor a man with too many patience in his blood that keeps him from reacting instantly after thinking. Tragicly, these two nouns are the greatest and best weapon for anyone to overcome anything in his life.

It’s Another Confession

I’m tired. Seriously. I’m tired and I’m unliterally have no one to run to when I’m tired like this.

Akhir-akhir ini banyak yang musti gue kerjain dan gue pikirin. Kepanitiaan ini-itu, kerjaan ini-itu, dan gue seneng. Gue seneng ngumpul dengan banyak circle dan nggak berkutat di satu peer group. Gue seneng sibuk, karena itu satu-satunya cara gue nggak mikirin semua masalah gue. Sayangnya, gue baru sadar ini semua cuman bikin badan gue hacur lebur, tanpa hati.

Gue sejenak bisa nelupain capek, sakit, dan payah gue pas gue ngeliat mereka tersenyum. Either itu Vega yang lari-lari sambil nyengir dan minta difotoin, Toil yang ngeluuuuh terus *haha*, atau Safik yang kerjaannya suudzon bahkan ke bokap gue! Terus temen-temen di kepanitiaan fakultas. Men, mereka yang bikin gue semangat bangun pagi setiap hari. Belom lagi temen-temen Plurk.. haha

Yea, I’m not actually alone. Kalopun mereka lagi nggak ada, gue tau gue punya dua makhluk cantik yang selalu ada buat gue, dan keluarga gue. Tapi beda..

Gue inget waktu gue lagi ada di mobil seorang temen gue yang tampaknya sudah menghapus gue, atau sekedar mentipp-ex gue dari hidupnya. Waktu itu dia bilang, gue udah punya cukup orang untuk bikin gue ngerasa lebih baik dan disayang. Ada temen gue dan bahkan ada keluarga gue. Tau jawaban gue apa? Gue jawab, “Iya tapi kan beda. I’m a normal girl and I’m not gonna kiss my girlfriends, will I?”

Hahaha..

How I miss those days, waktu ada yang peduli gue pulang jam berapa, sama siapa, dan gimana pulangnya. Ini emang pertanyaan standar orangtua gue kalau gue abis pergi, tapi akan jadi sangat spesial kalo ditanya seseorang yang bisa gue panggil pacar gue. Seseorang yang bisa gue banggain dan gue andelin, tanpa perlu terus-terusan gue senderin.

Gue ngeluh lagi. Well, mungkin ini udah waktunya gue bener-bener ngelupain kalau gue sebenernya butuh, karena toh gaada yang bisa gue lakukan, kan?

Tentang Diam

Wajah yang basah dan hati yang resah menghapus ribuan karakter dan ratusan kata yang tadinya bercerita tentangmu di window ini. Sebuah cerita tentang diam yang membuat hatiku bergemuruh dan mataku keruh. Kalau bisa, aku mau amnesia. Aku tau apapun yang aku lakukan tidak ada gunanya. Hanya membuang tenaga, dan membuat orang muak.

Sejuta Rasa Itu Pagi Ini

Lagu 3 Hari untuk Selamanya berkumandang di kamar gue, spontan gue inget perjalanan gue ke Samigaluh pas gue.. kalo nggak salah kelas 2 SMA.

Brr.. Embun dan udara pagi yang dingin bertiup menerpa muka gue yang kusut dipendem dalam bus semalaman. Muka-muka temen gue yang sama ble’enya bertebaran. Gue inget banget mukanya Fina yang merem-merem gimanaa gitu pas dengerin Beatles sepanjang Jakarta-Samigaluh, Shinta yang girang pas ketemu gue, Vania sama Niken yang nggak berenti-berenti manggil gue ‘Tits’ dan Chika yang percis kayak Rhoma Irama, juga nggak lupa kembaran gue, Mira, yang yaudah sih, ble’enya sama ma gue. Hahahaha…

Terus gue inget pas pulang dan sampe ke Jakarta. Satu bus heboh ngeliat bajaj yang berjejeran di depan Carrefour. Hahaha I miss those good olden days.

Entah kenapa rasa itu kembali lagi pagi ini, rasa yang membuat gue pengen make kotak-kotak hijau lagi..

Pelajaran untuk Diri Sendiri

Kadang-kadang, ada pelajaran yang hanya perlu disimpan di hati dan nggak perlu dibagi. Bukan egois, hanya memastikan kita tidak berkata tanpa bekerja :)

Time for a change…time to move on*

*Judul albumnya Pure Saturday

Yep. Gue akan menghabiskan hari ini dengan mendengarkan Pure Saturday satu album back to back! Sore tadi, jam 3an teng gue terbangun dari tidur siang gue dengan sakit gigi, sariawan yang semakin besar, dan lidah yang luka. Hahaha..

Tiba2 kok gue malah kepikiran masalah gue waktu itu ya? *Gue tau ini nggak nyambung, maafin ke-skip-an gue ya* Menurut gue, everything happened for a reason. The reason is for the greater good.

Kenapa ini semua sampai terjadi? Santai.. Nanti ada yang asik menunggu kita :)

Protected: Fuck You

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Tertawa (Tidak) Getir

Hanya post-an singkat nan cepat pagi ini,

Aku bercanda, tanpa ingin menambah embel-embel rasa. Lega yang tersisa entah bagaimana. Mungkin sementara akan aku tinggal kesan yang masih menyatu dengan kau, tapi jiwanya sudah sirna. Tidak berharap menunggu dan menerima siapapun tapi hari ini terlalu indah untuk sekedar diam dan pura-pura mengada.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.